Indah Langit Senja, Segar Rintik Hujan Sore.
Aku iri kepada para penulis itu.
Ya, para penulis itu, mereka yang mampu merangkai kata dan rasa dengan indahnya. Mereka yang menulis tentang indahnya langit senja, segarnya rintik hujan di sore hari, harumnya bau tanah basah dan ilalang serta tenangnya batin mereka saat berada di hamparan pengharapan. Mereka yang sanggup mengurai indahnya warna kuning bunga matahari, mengulang rangkaian pelangi, menggapai birunya bintang di langit selatan dan hijaunya rumput di savana yang kuangan. Mereka yang menggambarkan eloknya suasana perbukitan, ngarai yang berkelok, lembutnya awan, dan kuatnya hembusan angin kehidupan.
Bahkan sepinya malam selalu menjadi inspirasi.
Kasih berpadu menjadi tema.
Cita-cita menjadi pembakar gerak jiwa.
Aku hanya terlarut nikmat dalam kisah dan karya mereka. Aku iri pada HAMKA, Chairil Anwar, Taufik Ismail. Aku iri pada ribuan penulis sebelum dan sesudah jaman mereka.
–
Percikan dari bagian kontemplasi yang kuputuskan untuk kutulis. Sisanya, biarlah mengendap pada gudang arsip pikiranku. (30 Ramadhan 1429H)
Eid Mubarak! Mohon Maaf Lahir dan Batin
Peace. Out.

