Angga G. Pratama

An ordinary guy, living an extraordinary life.

My Back: The Eagle

kerok_elang

No. That’s not tattoo. It’s blood. My blood. Seen through the thin pore of my skin. It’s a statement. Not a statement of style. it’s a statement of tireness LOL :p

For the rest of you who is clueless, it’s a special Indonesian treatment for cold & muscle relaxation. I have it after massage.

Peace. Out.

Sistem Kebaikan

Seorang Ibu-ibu bertransaksi dengan seorang penjual makanan yang ramah.
“Jadi berapa, Mang?”
“Tiga belas ribu lima ratus, Bu.” Kata penjual bubur mutiara, bubur sumsum, dadar gulung dsb itu.
“Oh, ini..” Kata si Ibu sambil menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan.

Si ibu kemudian nampak sedikit terkejut karena si penjual menyerahkan kembalian tujuh ribu rupiah.
“Kok tujuh ribu Mang?”
“Iya Bu, gak ada lima ratusan, gapapa.”
“Oh makasih kalo gitu ya”
“Sama-sama Bu..”

Tak lama, seorang Laki-laki muda kembali menanyakan jumlah harga kepada si penjual, setelah dia memilih beberapa makanan.
“Berapa Mang?”
“Enem ribu Pak”
“Ini Pak” kata si pembeli dengan singkat sambil memberikan uang sepuluh ribu. Kembali si pembeli dibuat kaget sebab si penjual kali ini mengembalikan selembar uang lima ribu sambil bertanya apakah ada uang seribuan.

Si pembeli kemudian merogoh sakunya, dan hanya menemukan selembar uang dua ribuan.
“Ini pak ambil aja gapapa, gak usah dikembaliin.”
“Oh makasih atuh Pak..” Jawab si penjual itu dengan sumringah. Sambil si Laki-laki tadi bersiap pergi, mereka sempat mengobrol ringan tentang hujan yang akhir-akhir ini sering datang dan berhenti secara mendadak.

Moral of the Story:
1. Terbukti bahwa rezeki tidak akan tertukar, dan sering datang dari arah yang tidak disangka.
2. Memberilah karena dengan memberi, anda akan mendapat lebih banyak. Cerita nyata di atas memperlihatkan efek ini secara sempit, masih ada efek lain yang lebih luas dan dahsyat dari memberi.
3. Jangan lihat nilai lima ratus rupiah dari sudut pandang anda yang sanggup membayar tagihan internet atau seperti si Ibu tadi yang memarkir mobilnya di depan gerobak sederhana si penjual, tapi lihatlah dari sudut pandang si penjual. Uang lima ratus rupiah sebetulnya nilai yang cukup besar baginya.

Ya Allah, izinkan kami hidup dalam sistem kebaikan seperti itu ya Allah. Berikanlah berkah kepada orang-orang yang berusaha mencari nafkah secara halal dan baik.

Peace. Out.

Pagi.

Wake up early. Çelik – Bu Kalp Seni Unutur Mu & Julian Cely ft. Terry – Tentang Kita. Kupat Sayur Padang. Kopi Susu @warkop. Ngobrol dengan kawan lama, first met in 2002.

Simply my morning. A quiet, enjoyable morning.

I have my BIG goals in 2009. And it begins deservedly well. SEMANGAT!!!

Update

Anyway, I won a new laptop because of this post: http://angga.gpratama.net/2008/08/augusts-digest/. And as usual, I’m simply too lazy to make a proper “post” about it. Just re-read the post, and you’ll know. The new laptop has become my primary machine now, directly replaced my old laptop :D

Peace. Out.

Indah Langit Senja, Segar Rintik Hujan Sore.

Aku iri kepada para penulis itu.

Ya, para penulis itu, mereka yang mampu merangkai kata dan rasa dengan indahnya. Mereka yang menulis tentang indahnya langit senja, segarnya rintik hujan di sore hari, harumnya bau tanah basah dan ilalang serta tenangnya batin mereka saat berada di hamparan pengharapan. Mereka yang sanggup mengurai indahnya warna kuning bunga matahari, mengulang rangkaian pelangi, menggapai birunya bintang di langit selatan dan hijaunya rumput di savana yang kuangan. Mereka yang menggambarkan eloknya suasana perbukitan, ngarai yang berkelok, lembutnya awan, dan kuatnya hembusan angin kehidupan.

Bahkan sepinya malam selalu menjadi inspirasi.

Kasih berpadu menjadi tema.

Cita-cita menjadi pembakar gerak jiwa.

Aku hanya terlarut nikmat dalam kisah dan karya mereka. Aku iri pada HAMKA, Chairil Anwar, Taufik Ismail. Aku iri pada ribuan penulis sebelum dan sesudah jaman mereka.


Percikan dari bagian kontemplasi yang kuputuskan untuk kutulis. Sisanya, biarlah mengendap pada gudang arsip pikiranku. (30 Ramadhan 1429H)

Eid Mubarak! Mohon Maaf Lahir dan Batin

Peace. Out.

To Love And To Be Loved

Kebutuhanku untuk menulis, kurang lebih sama dengan kebutuhanku untuk membaca. Ya, mungkin pernyataan yang terlalu berlebihan, karena pada kenyataannya jumlah teks yang kutulis tentu saja tidak sebanyak yang kubaca.

Kebutuhanku untuk didengar kurang lebih sama dengan kebutuhanku untuk mendengar. Lagi-lagi pernyataan yang bisa jadi keliru karena pada kenyataannya aku tidak banyak mendengarkan orang lain seperti aku ingin didengar.

Kebutuhanku untuk dicinta, kurang lebih sama dengan kebutuhanku untuk mencinta agar bahagia. Kali ini, aku yakin benar bahwa ini adalah pernyataan yang tepat untukku. Dulu aku berpikir kalau aku bisa bahagia hanya dengan mencintai seseorang tanpa mengharap apapun sebagai balasnya. Cukuplah aku yang mencinta, tanpa perlu sedikitpun dia yang kucinta membalasnya. Bahkan dia yang kucinta tidak perlu tahu aku mencintainya. Tapi setelah apa yang kualami, setelah ribuan rangkaian proses berpikir kulalui, aku mengaku salah. Agar aku bahagia maka aku harus dicinta, sebesar aku mampu mencinta.

Adalah kata-kata sederhana yang memberiku kemantapan pikiran kali ini: karena aku manusia. Ya, karena aku bukan malaikat, karena aku bukan manusia suci, karena aku bukan pujangga nan romantis dari abad pertengahan. Tapi karena aku adalah seorang manusia biasa. Yang secara lahiriah merupakan makhluk yang lemah, tapi bisa kuat karena mencinta, dan dicinta.

Disclaimer: Tulisan ini adalah opini pada ruang publik yang diilhami dan menjadi kesimpulan dari ribuan rangkaian proses berpikir. Proses ini masih berjalan, sehingga opini bisa berubah sewaktu-waktu apabila melewati ribuan -atau bahkan kurang- proses berpikir lainnya. Proses berpikir *sangat* dipengaruhi oleh banyak sekali variabel, misalnya kondisi cuaca, kemacetan lalu lintas pada hari itu, kondisi penerangan tempat menulis, harga elpiji, jumlah cangkir kopi yang diminum, jumlah remah roti yang berceceran pada karpet *penting ya, dasar jorok!*, dan sebagainya. Simply take nothing on the internet too seriously! :p

Peace. Out.

Ten Years, And Still Counting

Takdir telah berkata, kami harus berpisah..

Sepuluh tahun lebih telah berlalu..

Banyak hal telah terjadi..
Banyak masalah datang dan pergi..
Banyak kesenangan turut menghiasi..
Banyak karakter kukenal dan kulalui..

Sepuluh tahun lebih telah berlalu..

Karena takdir pula, kami bertemu kembali..
Setelah semua yang kualami..
Hatiku masih berdegup terlalu cepat saat menatap pengisi hati..
Masih kulihat percikan-percikan api..

Sepuluh tahun lebih telah berlalu..

Tapi perasaan itu tak banyak berubah dalam diri..
Apakah selama itu aku harus mencari..
Kebahagiaan dunia yang penuh arti..
Tidak, mungkin sepuluh tahun lagi pun tak akan pernah mencukupi..

Sepuluh tahun lebih telah berlalu..

Masih saja rahasia-Mu tak kumengerti..
Mungkin memang hanya sanggup kujalani..
Tanpa perlu bertanya atau memahami..
Pertanyaan yang merupakan bagian dari teka-teki itu sendiri..

080327.2350

[for my sister, you were right, there's always a secret behind everything. And by any means, this is not a poem, simply a blurb, i never published any of my poems]

Peace. out.