To Love And To Be Loved
Kebutuhanku untuk menulis, kurang lebih sama dengan kebutuhanku untuk membaca. Ya, mungkin pernyataan yang terlalu berlebihan, karena pada kenyataannya jumlah teks yang kutulis tentu saja tidak sebanyak yang kubaca.
Kebutuhanku untuk didengar kurang lebih sama dengan kebutuhanku untuk mendengar. Lagi-lagi pernyataan yang bisa jadi keliru karena pada kenyataannya aku tidak banyak mendengarkan orang lain seperti aku ingin didengar.
Kebutuhanku untuk dicinta, kurang lebih sama dengan kebutuhanku untuk mencinta agar bahagia. Kali ini, aku yakin benar bahwa ini adalah pernyataan yang tepat untukku. Dulu aku berpikir kalau aku bisa bahagia hanya dengan mencintai seseorang tanpa mengharap apapun sebagai balasnya. Cukuplah aku yang mencinta, tanpa perlu sedikitpun dia yang kucinta membalasnya. Bahkan dia yang kucinta tidak perlu tahu aku mencintainya. Tapi setelah apa yang kualami, setelah ribuan rangkaian proses berpikir kulalui, aku mengaku salah. Agar aku bahagia maka aku harus dicinta, sebesar aku mampu mencinta.
Adalah kata-kata sederhana yang memberiku kemantapan pikiran kali ini: karena aku manusia. Ya, karena aku bukan malaikat, karena aku bukan manusia suci, karena aku bukan pujangga nan romantis dari abad pertengahan. Tapi karena aku adalah seorang manusia biasa. Yang secara lahiriah merupakan makhluk yang lemah, tapi bisa kuat karena mencinta, dan dicinta.
Disclaimer: Tulisan ini adalah opini pada ruang publik yang diilhami dan menjadi kesimpulan dari ribuan rangkaian proses berpikir. Proses ini masih berjalan, sehingga opini bisa berubah sewaktu-waktu apabila melewati ribuan -atau bahkan kurang- proses berpikir lainnya. Proses berpikir *sangat* dipengaruhi oleh banyak sekali variabel, misalnya kondisi cuaca, kemacetan lalu lintas pada hari itu, kondisi penerangan tempat menulis, harga elpiji, jumlah cangkir kopi yang diminum, jumlah remah roti yang berceceran pada karpet *penting ya, dasar jorok!*, dan sebagainya. Simply take nothing on the internet too seriously! :p
Peace. Out.

